Paser (Madrasah) - Suasana pagi Lapangan RKB MAN Insan Cendekia Paser, Jumat (22/5), tampak berbeda. Lantunan sholawat menggema di tengah barisan guru, tenaga kependidikan, dan para siswa yang mengikuti kegiatan “Jum’at Semesta”. Kegiatan rutin tersebut dipadukan dengan tausiyah reflektif yang disampaikan oleh M. Fahmi Fahreza Al Muzakki, menghadirkan nuansa religius sekaligus kontemplatif di tengah ritme pendidikan modern yang serba cepat.
Dalam penyampaiannya, Fahmi membuka tausiyah dengan mengulas wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW, yakni surat Al-‘Alaq ayat pertama: Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Menurutnya, ayat tersebut bukan sekadar perintah membaca dalam pengertian tekstual, melainkan sebuah fondasi epistemologis Islam yang sangat luas.
“Iqra’ adalah kata kerja perintah, tetapi objeknya tidak disebutkan. Dalam kaidah bahasa Arab, ketika objek tidak disebutkan, maka cakupannya menjadi umum,” jelasnya di hadapan seluruh peserta.
Ia menerangkan bahwa saat ayat itu turun, Al-Qur’an belum berbentuk mushaf seperti sekarang, bahkan Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang ummi. Karena itu, para mufasir memandang perintah membaca dalam ayat tersebut mencakup berbagai hal: membaca realitas, keadaan sosial, fenomena kehidupan, hingga memahami diri sendiri.
Fahmi juga menyoroti penggunaan diksi bismi rabbik. Ia menjelaskan bahwa huruf bi pada lafaz bismi bermakna mulabasah atau penyertaan. Dengan demikian, aktivitas membaca, belajar, dan mencari ilmu harus senantiasa disertai kesadaran ketuhanan.
“Apapun yang dipelajari, niatkan karena Allah. Jangan melepaskan ilmu dari nilai agama dan ketuhanan, apapun bidang minatnya,” tuturnya.
Dalam tausiyahnya, Fahmi turut mengaitkan fenomena kehidupan modern dengan kritik para pemikir Barat terhadap materialisme. Ia menyinggung pemikiran Erich Fromm melalui bukunya To Have or To Be yang membahas dua kecenderungan manusia: mode memiliki (to have) dan mode menjadi (to be).
Menurutnya, kehidupan modern sering kali mendorong manusia untuk terus menggenggam dan memiliki sesuatu secara berlebihan. Fenomena tersebut bahkan melahirkan apa yang ia sebut sebagai pig philosophy, yakni orientasi hidup yang hanya berputar pada pemenuhan kepemilikan material.
“Pendidikan sejatinya bukan sekadar mencetak manusia yang mampu memiliki banyak hal, tetapi membentuk manusia seutuhnya,” ujarnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam erat kaitannya dengan pembentukan insan kamil, yakni manusia yang siap menjalankan perannya sebagai hamba Allah, khalifah fil ardh yang menjaga bumi, sekaligus insan sosial yang peduli terhadap sesama.
Dalam penutup tausiyah, Fahmi mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara akal, hati, dan fisik. Ia mengaitkan hal tersebut dengan konsep pendidikan Al-Ghazali yang dalam perkembangan modern dikenal melalui aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
“Jangan sampai kita menjadi budak dari materi yang kita miliki. Manusialah yang harus mengendalikan materi, bukan sebaliknya,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk sesekali melakukan muhasabah, uzlah, dan perenungan diri di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
“Sebab terkadang, manusia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa menanyakan satu hal mendasar: sebenarnya siapa dirinya di bumi ini,” pungkasnya.
Kegiatan Jum’at Semesta tersebut ditutup dengan suasana khidmat dan reflektif. Di tengah derasnya arus modernitas, tausiyah yang disampaikan menjadi semacam “ruang jeda”, tempat para peserta diajak kembali menata orientasi hidup, ilmu, dan makna keberadaan manusia.(fhm)
Dalam penyampaiannya, Fahmi membuka tausiyah dengan mengulas wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW, yakni surat Al-‘Alaq ayat pertama: Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Menurutnya, ayat tersebut bukan sekadar perintah membaca dalam pengertian tekstual, melainkan sebuah fondasi epistemologis Islam yang sangat luas.
“Iqra’ adalah kata kerja perintah, tetapi objeknya tidak disebutkan. Dalam kaidah bahasa Arab, ketika objek tidak disebutkan, maka cakupannya menjadi umum,” jelasnya di hadapan seluruh peserta.
Ia menerangkan bahwa saat ayat itu turun, Al-Qur’an belum berbentuk mushaf seperti sekarang, bahkan Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang ummi. Karena itu, para mufasir memandang perintah membaca dalam ayat tersebut mencakup berbagai hal: membaca realitas, keadaan sosial, fenomena kehidupan, hingga memahami diri sendiri.
Fahmi juga menyoroti penggunaan diksi bismi rabbik. Ia menjelaskan bahwa huruf bi pada lafaz bismi bermakna mulabasah atau penyertaan. Dengan demikian, aktivitas membaca, belajar, dan mencari ilmu harus senantiasa disertai kesadaran ketuhanan.
“Apapun yang dipelajari, niatkan karena Allah. Jangan melepaskan ilmu dari nilai agama dan ketuhanan, apapun bidang minatnya,” tuturnya.
Dalam tausiyahnya, Fahmi turut mengaitkan fenomena kehidupan modern dengan kritik para pemikir Barat terhadap materialisme. Ia menyinggung pemikiran Erich Fromm melalui bukunya To Have or To Be yang membahas dua kecenderungan manusia: mode memiliki (to have) dan mode menjadi (to be).
Menurutnya, kehidupan modern sering kali mendorong manusia untuk terus menggenggam dan memiliki sesuatu secara berlebihan. Fenomena tersebut bahkan melahirkan apa yang ia sebut sebagai pig philosophy, yakni orientasi hidup yang hanya berputar pada pemenuhan kepemilikan material.
“Pendidikan sejatinya bukan sekadar mencetak manusia yang mampu memiliki banyak hal, tetapi membentuk manusia seutuhnya,” ujarnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam erat kaitannya dengan pembentukan insan kamil, yakni manusia yang siap menjalankan perannya sebagai hamba Allah, khalifah fil ardh yang menjaga bumi, sekaligus insan sosial yang peduli terhadap sesama.
Dalam penutup tausiyah, Fahmi mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara akal, hati, dan fisik. Ia mengaitkan hal tersebut dengan konsep pendidikan Al-Ghazali yang dalam perkembangan modern dikenal melalui aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
“Jangan sampai kita menjadi budak dari materi yang kita miliki. Manusialah yang harus mengendalikan materi, bukan sebaliknya,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk sesekali melakukan muhasabah, uzlah, dan perenungan diri di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
“Sebab terkadang, manusia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa menanyakan satu hal mendasar: sebenarnya siapa dirinya di bumi ini,” pungkasnya.
Kegiatan Jum’at Semesta tersebut ditutup dengan suasana khidmat dan reflektif. Di tengah derasnya arus modernitas, tausiyah yang disampaikan menjadi semacam “ruang jeda”, tempat para peserta diajak kembali menata orientasi hidup, ilmu, dan makna keberadaan manusia.(fhm)